“ Diiing doooong..!!”
Lengkingan suara bel pintu tiba-tiba memecah kesunyian pagi hari itu yang baru saja memulai geliatnya. Petra yang tengah asyik mengolesi dua lembar roti tawar sarapannya dengan selai red-strawberry favoritnya langsung terhenyak. Tanpa sadar, rotinya terlempar ke atas piring. Petra segera berlari menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Petra terkejut mendapati pak Hardian, tetangga sebelah rumahnya yang berprofesi sebagai Akuntan, tengah berdiri terpaku dengan wajah panik. Sebelum sempat Petra menyapa, pak Hardian langsung bergerak mendekati mahasiswa semester 3, jurusan Teknik Arsitektur itu sambil mencondongkan bahunya.
“ Maaf saya mengganggu sepagi ini.. Dik Petra ada jadwal kuliah hari ini ? “
“ Oh.., ada pak, saya Ujian Tengah Semester jam 9 nanti.. Memangnya ada apa pak ? “
“ Mmm.. jam 9 ? Syukur deh.. Boleh saya pinjam sepeda motornya? Saya terlambat bangun, padahal sebelum pukul 8, saya harus mempimpin rapat dan rasanya…” pak Hardian menoleh kearah jalan seakan menggiring pandangan Petra agar mengikutinya.
” Rasanya tidak mungkin menembus lalu-lintas sepadat itu dengan mobil.. “ sambung pak Hardian dengan ekspresi wajah semakin gelisah.
Tanpa perlu berpikir lama, Petra langsung mengerti maksud tetangganya itu. Ia sangat mengenal baik Pak hardian beserta seluruh keluarganya. Mereka bertetangga baik. Bahkan hubungan dua keluarga itu sudah seperti layaknya saudara. Saling tolong-menolong, menghormati, menghargai dan tidak ada lagi istilah sungkan dalam kamus kehidupan bertetangga mereka. Permintaan pak Hardian pagi itu bukanlah hal serius karena mereka telah saling percaya satu sama lain.
“ Silahkan duduk dulu pak “ Petra mempersilahkan pak Hardian masuk. “ Tunggu sebentar ya…Saya ambil kunci sepeda motor saya dulu.. “ ucapnya sambil berlari ke dalam kamarnya. Sesaat kemudian, Petra telah kembali bersama kunci sepeda motor Honda Vario dalam genggamannya. Wajah pak Hardian seketika berpijar.
“ Terimakasih dik Petra “ sambut pak Hardian seraya menyerahkan sesuatu. “ Ini kunci mobil saya, hari ini kita bertukar kendaraan dulu ya..“ ucapnya dengan senyum mengembang “ Pakai saja untuk kuliah dik Petra nanti “ sambung pak Hardian sambil beranjak keluar dan menghampiri sepeda motor Honda Vario milik Petra yang diparkir di sudut garasi.
“ Boleh saya pinjam helemnya sekalian ? “
Petra mengangguk sambil tersenyum. Dengan mantap, Pak Hardian mengambil helm dari rak khusus helm yang berada di dalam ruangan itu kemudian langsung mengenakannya
“ Maaf, saya terburu-buru, jadi saya mohon diri dari sekarang ya…” pamit pak Hardian sambil menghidupkan mesin sepeda motornya. “ Terimakasih banyak dik Petra..Semoga lalu-lintas sudah tidak macet lagi saat dik Petra berangkat ke kampus nanti..“
Lalu dalam hitungan detik, sepeda motor Honda Vario yang baru beberapa minggu keluar dari dealer itu melesat menginggalkan Petra yang masih terpaku di depan halaman rumahnya.
Perlahan Petra memasuki rumahnya dan kembali melanjutkan sarapannya yang tadi sempat tertunda. Pikirannya seketika melayang pada kenangan saat pertama kali mendapatkan sepeda motor Honda Varionya tepat di hari dirinya menginjak semester 3 dibangku kuliah. Itulah sepeda motor miliknya yang pertama. Sebenarnya ia telah memiliki sepeda motor sejak duduk di bangku kelas 1 SMU, namun sepeda motor Honda Legenda itu adalah pemberian Denis, kakaknya yang saat itu sudah merasa bosan dengan sepeda motor lamanya lalu Denis menggantinya dengan sepeda motor Honda Supra Fit.
Keluarga Petra memang fanatik berat pada merk Honda. Walaupun mereka kerap berganti kendaraan, tetapi tetap saja tidak pernah berpindah ke merk lain selain Honda. Bagai cinta mati, sekali jatuh cinta pada merk Honda, selamanya tetap Honda. Ayahnya menggunakan mobil Honda CRV. Ibunya lebih memilih mobil Honda Odissey untuk menemani seabrek aktifitasnya. Kakak perempuannya, Evita, menjatuhkan pilihan pada mobil Honda Jazz. Sedangkan kakak laki-lakinya tetap setia dengan Honda Supra Fitnya. Bukannya belum puas dengan apa yang telah ia miliki, namun sebagai anak muda seusianya yang sangat dinamis dan progresif, wajar jika ia memiliki harapan untuk sesuatu yang lebih dari apa yang telah ia dapatkan saat ini. Petra memendam impian besar yang sangat ingin segera ia wujudkan dalam waktu dekat, yaitu mengganti Honda Varionya dengan Honda Tiger. Performa body dan kapasitas mesin Honda tiger yang maskulin dan tangguh, telah berhasil merebut hatinya. Ia selalu mengkhayalkan dirinya membuka mata di pagi hari dan tiba-tiba sepeda motor impiannya itu telah ada dihadapannya. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, ia berhak merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia.
Ternyata Petra tidak sendirian dengan impiannya karena kakak laki-lakinya juga mempunyai impian yang sama. Jadilah mereka berdua saling bersaing bahwa siapa yang terlebih dahulu berhasil mengganti sepeda motor mereka dengan Honda Tiger, dialah pemenangnya.
Dan atmosfir persainganpun kian hari kian bertambah seru. Denis, kakak laki-laki Petra bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji sebagai cook helper. Pekerjaan itu dilakukan disela-sela jadwal kuliahnya. Sedangkan Petra menyambi kerja sebagai sales marketing pada sebuah perusahaan penerbitan nasional saat dirinya tidak ada jadwal kuliah. Tujuan mereka sama, yaitu menabung dan terus menabung untuk dapat secepatnya memiliki sepeda motor Honda Tiger dambaan mereka.
Tak hanya Petra dan keluarganya yang fanatik pada merk Honda, hampir seluruh kerabat, teman, sahabat, tetangga hingga lingkungan yang sering di datanginya begitu menjadikan Honda sebagai satu-satunya merk pilihan kendaraan favorit mereka. Alasan yang paling sering ia dengar dari para pengguna kendaraan merk Honda adalah harganya yang relatif terjangkau, suku cadang (spare part) yang melimpah, tersedianya bengkel-bengkel terpercaya dengan ribuan tenaga profesional yang siap mengatasi setiap masalah yang timbul pda kendaraan kita, kenyamanan dan keamanan saat dikendarai hingga harga purna jualnya yang relatif stabil saat hendak dijual kembali.
Dengan sejumlah fakta tersebut, tak heran jika Honda begitu merajai pasar konsumen kendaraan bermotor di tanah air. Kini bapak-bapak, ibu-ibu, remaja pria dan wanita hingga anak-anak yang belum cukup umurpun dengan bangganya berseliweran dijalanan dengan sepeda motor Honda mereka. Pemandangan itu telah menjadi hal biasa yang kerap dijumpai sehari-hari.
Sungguh sebuah fenomena yang tak terbantahkan bahwa sepeda motor Honda telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para penggunanya merasa amat bangga dan sangat percaya diri saat mengendarainya.
Dukungan iklan yang memborbardir berbagai media massa secara simultan, kontinyu dan sporadis, pembuktian kualitas produk-produk Honda dari waktu ke waktu serta testimoni para pengguna Honda yang merasa puas, kian membuat eksistensi dan performansi Honda dibanjiri pujian sekaligus diakui. Grafik penjualannya terdongkrak dengan dahsyat dari masa ke masa. Jauh meninggalkan para kompetitornya.
Tak perduli berapapun jumlah dan merk kendaraan lain yang ikut menjajal keberuntungannya di pasar dalam negeri, Honda seakan tak pernah tergoyahkan. Honda berhasil membentuk paradigma sebagai merk dagang dengan jaminan mutu. Bahkan sanggup untuk selalu menjadi yang terdepan (pionir) dalam segalanya. Honda merupakan wujud nyata dari keberhasilan revolusi industri teknologi otomotif yang melesat dengan cepat dan pesat di saat industri sejenis masih mengintai dari belakang sambil mengambil ancang-ancang untuk melangkah.
Telepon tiba-tiba berdering sekaligus membuyarkan lamunan Petra. Ia segera menyambar telepon yang terletak persis diatas meja kecil, tak jauh dari meja makan tempatnya tadi menghabiskan sarapan.
“ Selamat pagi…” sapa Petra santun.
“ Pagi.. Petra, ini ayah..”
“ Ayah? Mmm.. ada apa yah…? Tumben ayah telpon sepagi ini dan nada suara ayah tak seperti baiasanya…”
“ Hehehe… Jadi suara ayah terdengar lebih bersemangat ya ? “
“ Benar yah…Memangnya ada apa? “
“ Sampaikan berita gembira pada keluarga, terutama ibumu, minggu depan ayah mendapat promosi jabatan… Dan sebagai hadiah sekaligus rasa syukur, ayah berencana membelikan 2 buah sepeda motor Honda Tiger sekaligus dalam minggu ini, masing-masing untukmu dan mas Denis…itu cita-cita kalian selama ini kan ?”
Langit seakan bertambah biru dan udara tiba-tiba terasa jauh lebih segar dari biasanya. Dalam minggu ini..? Sepeda motor Honda Tiger baru..? Berarti tidak akan ada lagi persaingan dan kerja paruh waktu..? Petra seperti bermimpi. Tapi kali ini tidak sia-sia. Ia dibangunkan untuk menyaksikan bahwa impiannya akan segera menjadi nyata.
“ Sungguh yah.. ?” suara Petra tercekat di tenggorokan. Ia tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Hatinya terlanjur disesaki kegembiraan. Kalimat demi kalimat ayahnya bagai alunan lagu paling merdu yang pernah didengar telinganya. Ia hampir melompat kegirangan saat ayahnya mengakhiri pembicaraan.
Baru saja ia hendak menelpon ibunya dan Denis, tiba-tiba reminder pada ponselnya melengking dengan keras. Jantung Petra seolah berhenti berdetak saat menatap layar ponselnya. Ia membaca huruf demi huruf dengan nafas tertahan.
“ Inget ! Ujian Tengah Semester jam 09.00 WIB ! ”
Mata Petra menatap lurus ke arah jam dinding. Saat itu waktu telah menujukkan pukul 08.30. Artinya tinggal 30 menit lagi waktu yang tersisa. Jika tidak mengikuti Ujian Tengah Semester sesuai jadwal yang ditentukan, berarti ia harus mengajukan Ujian susulan yang waktu pelaksanaannya entah kapan. Proses mengurus hal-hal seperti itu adalah kenyataan yang paling dihindari setiap mahasiswa / mahasiswi di kampusnya. Selain akan banyak waktu dan energi yang tersita, materi pelajaran yang sebelumnya telah dikuasaipun bisa lenyap perlahan dari ingatan seiring proses pengurusan Ujian susulan berlangsung dan itu berarti harus kembali belajar untuk menghadapi ujian yang sama.
Tidak ! Aku tidak boleh terlambat ! pekik Petra dalam hati. Ia segera memungut tas ranselnya dan berlari keluar tanpa sempat meminum jus jeruknya lagi. Tapi langkahnya langsung terhenti tepat di ujung pintu garasi saat ingatannya langsung tersadar bahwa sepeda motor Honda Varionya baru saja dipinjam tetangganya tadi pagi.
Tepat pada saat itu lalu-lintas di jalanan justru terlihat semakin padat sehingga mustahil menerobos kemacetan dengan mobil.
Tanpa sadar Petra berteriak “ Pak Hardiaaaaannn… !!!”
Bandung, 24 Februari 2008
Penulis,
Listianto Andi Nugroho, SE
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar